Liburan Ini Ngapain?

Juni 18th, 2011

Karena nganggur di rumah, saya coba buka - buka blog ini. Asal tau saja, susah! Karena lupa usernamenya. Saya coba - coba kalimat yg mungkin username saya dulu. Seperti: ujang, cemungud, ewanpulangkannazzar…,

Kata  - kata di atas gagal semua sebagai username, apalagi yg paling terakhir. Rasanya ga mungkin. Tapi pada akhirnya ketemu juga username saya. Let’s start posting.

Liburan sekolah telah tiba. Diumumkan libur satu bulan full, anak - anak girang. Tapi setelah sampai di rumah, bingung sendiri, ‘mau ngapain dong ini?’. Bapak kerja, mana mungkin liburan ke luar. Apalagi ke Hawaii (ini liburan apa honeymoon?).

Saya sudah coba mencari - cari kegiatan di rumah. Lumayan, kalo saya di rumah terus, kulit bisa putih mulus, kayak kepalanya Dedy Corbuzier. Waktu bisa diisi dengan..yaa..internet, main gitar, smsan, makan ayam bakar. Hah, itu semua bisa saja fun, tapi setelah lewat minggu pertama, perasaan bosan bisa masuk lho.

Jadi, untuk teman - teman yg berlibur, selamat ber-holiday ria. Tapi ingat langit dan daratan, sekali - kali pegang pulpen dan menulis. Karena saya pengalaman, kelamaan libur, saya lupa cara menulis.

Dah, sampai jumpa lagi di blog berdebu ini. .

The End

Tipu Lewat Kata - Kata Manis

Oktober 30th, 2010

Jika orang hendak menipu orang lain, pasti kata - kata manis salah satu senjata pamungkasnya. Target dibuat terlena dan terbuai oleh imajinasinya sendiri, sehingga pikirannya menjadi kosong dan tidak jernih.

Saya teringat kejadian sekitar enam bulan lalu. Saat  sekolah pulang cepat dan saya hanya berdiam diri di rumah.  Tiba - tiba hape berbunyi, nomer tak dikenal mejeng di layar hape.

‘Siapa nih?’ gumam saya dalam hati. ‘Tak ada salahnya diangkat.”

Saya angkat telepon dan mengucapkan ‘halo?’

‘Selamat siang, saya dari operator XL. Saya ingin mengucapkan selamat pada anda, bahwa nomor anda telah memenangkan suatu kuis di chanel X’

‘Hah?’ Saya membuka mulut lebar - lebar.

Sedangkan orang di seberang sana mengabarkan bahwa nomer saya menang kuis di suatu acara tengah malam.  Si Penipu ini menanyakan nama lengkap saya, selanjutnya mengkonfirmasi nomer. Aneh bukan? Kok menanyakan nama saya dulu, baru mengkonfirmasi nomer?

‘Boleh tahu, saya sedang bicara dengan siapa, ya?’ kata si penipu. Karena suara saya berat, jadi dikira om-om. Padahal saya saat itu masih SMP.

‘Tole Anak Sekolahan, mas,’ jawab saya santai.

‘Apa ini benar nomer 08786xxxxxxx atas nama Tole Anak Sekolahan?’ tanyanya dengan sikap formal.

‘Nggg..betul?’

‘Selamaat!!

Kalimat selanjutnya tak usah ditebak, sudah pasti dia mengucapkan selamat bahwa saya menang kuis. Sebenarnya dari sini, saya sudah sadar bahwa ini kedok penipuan, karena nomer ini atas nama ibu saya, bukan saya.

Telepon berlanjut. Dia tetap membual dengan rapi, sedangkan saya yang sudah tahu dari awal ini penipuan, mencoba ingin mendengarkan, ’seperti apa sih penipuan itu?’

Jadilah, saya mendengarkan sambil cengengesan.

Sepuluh menit berlalu, saya tidak lagi cengengesan. Kata - katanya terdengar sangat rapi. Saya menjadi ragu untuk tidak percaya. Keraguan ini memunculkan ide ingin coba - coba. ‘Ga ada salahnya dicoba kata - kata orang ini.’

‘Jadi, Bapak Tole, ini kuis tidak dipungut biaya apapun. Jadi ‘Pak tinggal ambil hadiahnya.’

‘Oh ya?!’

‘Iya, untuk itu, ‘Pak silahkan menghubungi pimpinan usaha yang bernama Pak Budi, dia ada di Denpasar.’

‘Oke..’

Dengan sigap si Penipu mendikte nomernya, saya pun dengan sigap mencatat.

‘Itu nomernya, Bapak Tole. Silahkan anda hubungi.’

‘Oh..iya iya..eit tunggu! Saya ga ada pulsa, Mas.’

‘Mmm..beli..cepat beli!’

Lha? Kok saya dipaksa begini? Tapi juga, kok saya menurut saja dipaksa begitu. Mana ada operator suatu layanan memaksa pelanggan untuk beli pulsa. Gilaa.

‘Oke deh. Saya beli pulsa dulu.’

‘Baik, langsung hubungi pimpinannya, Pak Tole’

Saya pergi ke toko pulsa mengebut dengan motor. Tidak sabar dengan hadiahnya. Selesai mendapatkan pulsa, langsung menghubungi pimpinan gadungan.

‘Selamat siang..,’ jawab di seberang.

‘Halo, benar ini bapak Budi? Saya disuruh nelpon ke bapak karena saya menang hadiah.’

‘Oh. Bisa sebutkan nomer telepon anda dan atas nama siapa?’

‘Bisa. Dari nomer 08786xxxxxx atas nama Tole Anak Sekolahan.’

Sepi selama satu menit.

‘Selamat, Bapak Tole, anda memang memenangkan hadiah.’

‘Oh, ya, Pak?’ saya mencoba tenang. Padahal hati sudah dag-dig-dug-dor.

‘Iya benar. Jadi bagaimana perasaan bapak saat ini?’

‘Saya senang..’

Dan berbagai kata - kata pemanis lainnya sudah ia keluarkan. Janjinya, hadiah akan diantar ke alamat saya, tapi saya harus menunggu dipinggir jalan untuk menunggu iring - iringan mobil box yang dikawal polisi, dimana mobil itu  mengangkut mio warna hijau untuk saya. Ada hal yang ganjil:

1) Ada mio warna hijau?

2) Mengantar satu unit mio dikawal polisi?

3) Saya disuruh menunggu hadiah saya dipinggir jalan? Macam nunggu bakso saja.

Tapi seperti saya bilang tadi, saya malah ngikut.

‘Oke, kami bisa memberi bapak tambahan 1 buah hape bila bapak bersedia bekerja sama dengan kami.’

‘Oke, saya harus ngapain?’

‘Nah untuk menyelidiki pengisian ilegal di konter - konter…….,’

Orang ini menjelaskan, bahwa banyak counter - counter pulsa isi ulang memakai cara ilegal untuk mendapatkan pulsa. Pokoknya, singkatnya, saya diajak mengetes dengan membelikan dia pulsa Rp.200.000 untuk bahan penyelidikan.

‘Bapak tidak usah khawatir. Nanti akan kami ganti uang bapak.’

Gampang orang ini bicara.

saya pun sepakat untuk ‘mengetes’ dengan mengirim pulsa sebesar Rp.200.000.   Pelayan counter mendatangi saya yang sudah menunggu di counternya. Selanjutnya ia memberikan kertas untuk mencatat nomer, lalu bertanya,

‘Beli berapa dik?’

Saya katakan lantang, ‘Dua ratus ribu!’

Dicatat nomer penerima pulsa di hape, si pedagang meminta konfirmasi.

‘Kir..,’ jawaban saya terputus karena ternyata ibu saya datang. ‘Tole! Ngapain kamu?!’

‘Ini lho..’

‘Bawa sini hapenya!’ dilihat nomer penelpon di hape saya, ‘Ini penipu goblok! Operator XL ga 08754 gini!’

Saya langsung sadar. Saya kena tipu. Saya terhipnotis kalimat - kalimat si Penipu. Saya sudah mendapatkan pikiran saya yang jernih.

Sedangkan si Penipu di telepon, panik..

‘Halo! Halo! Bapak, anda ini melecehkan! Anda bisa saya tuntut di pengadilan!’ katanya. Lalu tak disangka, terdengar latar suara ayam berkokok ‘kukuruyuuuk’. Oh sial.

‘Tuntut ajah,’ kata saya. Ngaku - ngaku dari kantor pusat, tapi ada ayamnya. Kantor pusat ternak apa?

Saya putus teleponnya. Saya pulang dengan banyak rasa bersyukur, ibu saya datang di momen yang tepat. Dan si Penipu, gagal total. Mungkin sekarang sedang mencari korban baru, maka kamu sekalian, berhati - hatilah.

The End

Kena Deh Bumpernya

Oktober 22nd, 2010

Saya setiap pulang dan berangkat sekolah selalu dihadapakan dengan jalanan padat beserta pengendaranya yang hampir semua terburu - buru. Membuat jalanan kota bagaikan medan balapnya orang kantoran. Siapa yang tidak sumpek dengan suasana seperti ini? Memang, jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta, kota - kota di Bali belum terlalu padat, sampai mobil hanya maju 30cm satu - persatu. Tapi macet tetap saja macet. Padat tetap saja padat. Berkilo - kilo meter perjalanan dinikmati sambil menghirup udara kota yang kaya akan monoksida. Membuat saya selalu ingin menutup hidung dan bernafas lewat tas kresek pisang goreng.

Di Indonesia, macet bukan hal baru lagi. Jadi saya rasa percuma jika dibahas berlapis - lapis. Masalah - masalah yang timbul akibat macet itu lah, yang bervariasi dan tidak akan ada habisnya.

Saya pernah menjadi dag - dig - dug ketika berhenti di traffic light. Mobil - mobil dan motor saling berdempet. Mencari - cari selah untuk bisa ada di barisan paling depan sudah hal wajib bagi pengendara sepeda motor. Tak terkecuali saya sebagai pengendarayang ingin lekas pulang. Berbekal motor 125cc, saya menyusup ke sela - sela kendaraan. Saya yang awalnya ada di belakang barisan kendaraan, sekarang ada ditengah - tengah.

Ini membuat saya makin nekat melewati sela - sela mobil.

Lalu masalah lahir ketika saya berniat melewati sela mobil van dan sedan. Mobil sedan yang dibelakang, malah memajukan mobilnya ketika saya masih berada di sela - sela kedua mobil tersebut. Saya terjepit. Sedikit menyentuh bumper mobil van.

Baiklah, karena saya sendiri baik - baik saja, saya anggap ini kecelakaan kecil biasa.

Sepuluh detik kemudian, muncul kepala seorang etnis cina dengan rambut narutonya dari jendela mobil van. Dia buka pintu dan menoleh keluar untuk memeriksa bumpernya.

Saya mulai dag - dig - dug. Bisa - bisa kalau rusak, saya dituntut ganti rugi.

Pria cina ini keluar dari mobilnya, memeriksa bumpernya, mengelusnya sedikit, lalu memandang saya.

Di raut wajahnya seperti berkata, “lo yang nyerempet bumper gue hah!?”

Dan saya jawab juga dengan raut wajah, “yey. Bukan saya, salahin sedan belakang ini coy!”

Sekejap kami bertatap wajah. Raut wajahnya yang tidak menyenangkan menunjukan dia sedang sembelit marah. Bila dia sedang ingin memukul orang, saya ingin sarankan agar dia memukul si sopir sedan. Kemudian pria itu kembali masuk ke mobilnya. Lampu hijau menyala, saya langsung tancap meninggalkan traffic light ini, sebelum saya dijepit lebih banyak mobil.

Peristiwa ini meninggalkan pelajaran bagi saya, bahwa jangan nekat nyelip-nyelip di traffic light atau saya bisa keluar duit untuk ganti bumper orang.

Satu bumper bisa lebih dari 1 juta, uang saku saya setahun itu.

The End

Halo dunia!

Oktober 17th, 2010

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

The End