Kena Deh Bumpernya

22 Oct 2010

Saya setiap pulang dan berangkat sekolah selalu dihadapakan dengan jalanan padat beserta pengendaranya yang hampir semua terburu - buru. Membuat jalanan kota bagaikan medan balapnya orang kantoran. Siapa yang tidak sumpek dengan suasana seperti ini? Memang, jika dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta, kota - kota di Bali belum terlalu padat, sampai mobil hanya maju 30cm satu - persatu. Tapi macet tetap saja macet. Padat tetap saja padat. Berkilo - kilo meter perjalanan dinikmati sambil menghirup udara kota yang kaya akan monoksida. Membuat saya selalu ingin menutup hidung dan bernafas lewat tas kresek pisang goreng.

Di Indonesia, macet bukan hal baru lagi. Jadi saya rasa percuma jika dibahas berlapis - lapis. Masalah - masalah yang timbul akibat macet itu lah, yang bervariasi dan tidak akan ada habisnya.

Saya pernah menjadi dag - dig - dug ketika berhenti di traffic light. Mobil - mobil dan motor saling berdempet. Mencari - cari selah untuk bisa ada di barisan paling depan sudah hal wajib bagi pengendara sepeda motor. Tak terkecuali saya sebagai pengendarayang ingin lekas pulang. Berbekal motor 125cc, saya menyusup ke sela - sela kendaraan. Saya yang awalnya ada di belakang barisan kendaraan, sekarang ada ditengah - tengah.

Ini membuat saya makin nekat melewati sela - sela mobil.

Lalu masalah lahir ketika saya berniat melewati sela mobil van dan sedan. Mobil sedan yang dibelakang, malah memajukan mobilnya ketika saya masih berada di sela - sela kedua mobil tersebut. Saya terjepit. Sedikit menyentuh bumper mobil van.

Baiklah, karena saya sendiri baik - baik saja, saya anggap ini kecelakaan kecil biasa.

Sepuluh detik kemudian, muncul kepala seorang etnis cina dengan rambut narutonya dari jendela mobil van. Dia buka pintu dan menoleh keluar untuk memeriksa bumpernya.

Saya mulai dag - dig - dug. Bisa - bisa kalau rusak, saya dituntut ganti rugi.

Pria cina ini keluar dari mobilnya, memeriksa bumpernya, mengelusnya sedikit, lalu memandang saya.

Di raut wajahnya seperti berkata, “lo yang nyerempet bumper gue hah!?”

Dan saya jawab juga dengan raut wajah, “yey. Bukan saya, salahin sedan belakang ini coy!”

Sekejap kami bertatap wajah. Raut wajahnya yang tidak menyenangkan menunjukan dia sedang sembelit marah. Bila dia sedang ingin memukul orang, saya ingin sarankan agar dia memukul si sopir sedan. Kemudian pria itu kembali masuk ke mobilnya. Lampu hijau menyala, saya langsung tancap meninggalkan traffic light ini, sebelum saya dijepit lebih banyak mobil.

Peristiwa ini meninggalkan pelajaran bagi saya, bahwa jangan nekat nyelip-nyelip di traffic light atau saya bisa keluar duit untuk ganti bumper orang.

Satu bumper bisa lebih dari 1 juta, uang saku saya setahun itu.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post