Tipu Lewat Kata - Kata Manis

30 Oct 2010

Jika orang hendak menipu orang lain, pasti kata - kata manis salah satu senjata pamungkasnya. Target dibuat terlena dan terbuai oleh imajinasinya sendiri, sehingga pikirannya menjadi kosong dan tidak jernih.

Saya teringat kejadian sekitar enam bulan lalu. Saat sekolah pulang cepat dan saya hanya berdiam diri di rumah. Tiba - tiba hape berbunyi, nomer tak dikenal mejeng di layar hape.

‘Siapa nih?’ gumam saya dalam hati. ‘Tak ada salahnya diangkat.”

Saya angkat telepon dan mengucapkan ‘halo?’

‘Selamat siang, saya dari operator XL. Saya ingin mengucapkan selamat pada anda, bahwa nomor anda telah memenangkan suatu kuis di chanel X’

‘Hah?’ Saya membuka mulut lebar - lebar.

Sedangkan orang di seberang sana mengabarkan bahwa nomer saya menang kuis di suatu acara tengah malam. Si Penipu ini menanyakan nama lengkap saya, selanjutnya mengkonfirmasi nomer. Aneh bukan? Kok menanyakan nama saya dulu, baru mengkonfirmasi nomer?

‘Boleh tahu, saya sedang bicara dengan siapa, ya?’ kata si penipu. Karena suara saya berat, jadi dikira om-om. Padahal saya saat itu masih SMP.

‘Tole Anak Sekolahan, mas,’ jawab saya santai.

‘Apa ini benar nomer 08786xxxxxxx atas nama Tole Anak Sekolahan?’ tanyanya dengan sikap formal.

‘Nggg..betul?’

‘Selamaat!!

Kalimat selanjutnya tak usah ditebak, sudah pasti dia mengucapkan selamat bahwa saya menang kuis. Sebenarnya dari sini, saya sudah sadar bahwa ini kedok penipuan, karena nomer ini atas nama ibu saya, bukan saya.

Telepon berlanjut. Dia tetap membual dengan rapi, sedangkan saya yang sudah tahu dari awal ini penipuan, mencoba ingin mendengarkan, ’seperti apa sih penipuan itu?’

Jadilah, saya mendengarkan sambil cengengesan.

Sepuluh menit berlalu, saya tidak lagi cengengesan. Kata - katanya terdengar sangat rapi. Saya menjadi ragu untuk tidak percaya. Keraguan ini memunculkan ide ingin coba - coba. ‘Ga ada salahnya dicoba kata - kata orang ini.’

‘Jadi, Bapak Tole, ini kuis tidak dipungut biaya apapun. Jadi ‘Pak tinggal ambil hadiahnya.’

‘Oh ya?!’

‘Iya, untuk itu, ‘Pak silahkan menghubungi pimpinan usaha yang bernama Pak Budi, dia ada di Denpasar.’

‘Oke..’

Dengan sigap si Penipu mendikte nomernya, saya pun dengan sigap mencatat.

‘Itu nomernya, Bapak Tole. Silahkan anda hubungi.’

‘Oh..iya iya..eit tunggu! Saya ga ada pulsa, Mas.’

‘Mmm..beli..cepat beli!’

Lha? Kok saya dipaksa begini? Tapi juga, kok saya menurut saja dipaksa begitu. Mana ada operator suatu layanan memaksa pelanggan untuk beli pulsa. Gilaa.

‘Oke deh. Saya beli pulsa dulu.’

‘Baik, langsung hubungi pimpinannya, Pak Tole’

Saya pergi ke toko pulsa mengebut dengan motor. Tidak sabar dengan hadiahnya. Selesai mendapatkan pulsa, langsung menghubungi pimpinan gadungan.

‘Selamat siang..,’ jawab di seberang.

‘Halo, benar ini bapak Budi? Saya disuruh nelpon ke bapak karena saya menang hadiah.’

‘Oh. Bisa sebutkan nomer telepon anda dan atas nama siapa?’

‘Bisa. Dari nomer 08786xxxxxx atas nama Tole Anak Sekolahan.’

Sepi selama satu menit.

‘Selamat, Bapak Tole, anda memang memenangkan hadiah.’

‘Oh, ya, Pak?’ saya mencoba tenang. Padahal hati sudah dag-dig-dug-dor.

‘Iya benar. Jadi bagaimana perasaan bapak saat ini?’

‘Saya senang..’

Dan berbagai kata - kata pemanis lainnya sudah ia keluarkan. Janjinya, hadiah akan diantar ke alamat saya, tapi saya harus menunggu dipinggir jalan untuk menunggu iring - iringan mobil box yang dikawal polisi, dimana mobil itu mengangkut mio warna hijau untuk saya. Ada hal yang ganjil:

1) Ada mio warna hijau?

2) Mengantar satu unit mio dikawal polisi?

3) Saya disuruh menunggu hadiah saya dipinggir jalan? Macam nunggu bakso saja.

Tapi seperti saya bilang tadi, saya malah ngikut.

‘Oke, kami bisa memberi bapak tambahan 1 buah hape bila bapak bersedia bekerja sama dengan kami.’

‘Oke, saya harus ngapain?’

‘Nah untuk menyelidiki pengisian ilegal di konter - konter…….,’

Orang ini menjelaskan, bahwa banyak counter - counter pulsa isi ulang memakai cara ilegal untuk mendapatkan pulsa. Pokoknya, singkatnya, saya diajak mengetes dengan membelikan dia pulsa Rp.200.000 untuk bahan penyelidikan.

‘Bapak tidak usah khawatir. Nanti akan kami ganti uang bapak.’

Gampang orang ini bicara.

saya pun sepakat untuk ‘mengetes’ dengan mengirim pulsa sebesar Rp.200.000. Pelayan counter mendatangi saya yang sudah menunggu di counternya. Selanjutnya ia memberikan kertas untuk mencatat nomer, lalu bertanya,

‘Beli berapa dik?’

Saya katakan lantang, ‘Dua ratus ribu!’

Dicatat nomer penerima pulsa di hape, si pedagang meminta konfirmasi.

‘Kir..,’ jawaban saya terputus karena ternyata ibu saya datang. ‘Tole! Ngapain kamu?!’

‘Ini lho..’

‘Bawa sini hapenya!’ dilihat nomer penelpon di hape saya, ‘Ini penipu goblok! Operator XL ga 08754 gini!’

Saya langsung sadar. Saya kena tipu. Saya terhipnotis kalimat - kalimat si Penipu. Saya sudah mendapatkan pikiran saya yang jernih.

Sedangkan si Penipu di telepon, panik..

‘Halo! Halo! Bapak, anda ini melecehkan! Anda bisa saya tuntut di pengadilan!’ katanya. Lalu tak disangka, terdengar latar suara ayam berkokok ‘kukuruyuuuk’. Oh sial.

‘Tuntut ajah,’ kata saya. Ngaku - ngaku dari kantor pusat, tapi ada ayamnya. Kantor pusat ternak apa?

Saya putus teleponnya. Saya pulang dengan banyak rasa bersyukur, ibu saya datang di momen yang tepat. Dan si Penipu, gagal total. Mungkin sekarang sedang mencari korban baru, maka kamu sekalian, berhati - hatilah.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post